Saturday, August 02, 2008
lelaki kecil
Lelaki kecil itu berjalan kepadaku dengan lunglai. Aku tak dapat sepenuhnya mengerti pesan yang disampaikan mata kecil yang sedih itu. Mungkin dia letih dengan hidupnya yang serba kekurangan hingga tak dapat membiayai sekolahnya. Mungkin dia benci karena saat ini dia masih harus meminta pada kami, bahkan untuk membayar tiket renang sekalipun.

Aku sedih dan marah. Bukan karena dirinya. Mungkin kepada negara yang mengingkari janji untuk memeliharanya. Mungkin kepada Tuhan, karena tidak menciptakan manusia dengan kondisi ekonomi yang sama. Mungkin pada diriku sendiri, karena hingga saat ini belum mampu berbuat banyak untuk menolong dia dan teman-temannya.

Aku ingin sekali melihatnya tersenyum bahagia, bermain-main, berlari-lari dengan bebas. Mengejar layangan yang putus atau bermain bola dengan teman-temannya. Anak seusianya tidak pantas merasakan beban hidup yang begitu rupa. Anak seusianya tidak perlu bekerja di bengkel seusai sekolah hanya untuk membiayai ongkos angkutan umum untuk pulang-pergi ke sekolahnya.

Aku ingin menangis untuknya, dan untuk anak-anak lainnya dengan jumlah yang tak terhitung banyaknya. Bukan karena aku mengasihani mereka, tetapi aku mengasihani masa depan bangsa ini. Apa jadinya bangsa ini dengan anak-anak yang tidak bahagia?
posted by laila @ 9:26 PM   0 comments
Friday, May 09, 2008
...
kamu
pagi
dan udara
adalah hal-hal yang membuatku mencandu
sebab,
sinyal elektrik melalui labirin gelap itu
tak putus-putusnya :
berteriak,
menukik,
dan membakar
komando seru yang tertawa nakal

I miss you
I want you

lihatlah sudut-sudut kosongku
menari hampa bersama angin senja

fill me...
marry me...
my body
and my soul

perlahan kuhisap racun bisamu,
hingga aku mati tersedak aksara
serupa ekstase yang menggeletarkan
setiap inci dari tubuh ini

(pernah dilambungkan pada akulaila.blogdrive.com pada entah)
posted by laila @ 5:18 AM   2 comments
Wednesday, August 22, 2007
Seribu topeng
Aku ingin memiliki seribu topeng
Dari wajah lugu hingga wajah genit merayu
Sejuta luka dan carut marut hidupku tak perlu mereka tahu
Pun belatung yang menggerogoti otakku tak perlu mereka tanyakan


Aku ingin mengakhiri kegelisahan yang tak berkesudahan,
yang menari melingkar, berteriak kesetanan dalam benakku
Aku ingin dapat membencimu,
hingga hatiku beku
Dan keberadaanku yang menyakitkan tak terasa lagi
posted by laila @ 11:30 PM   0 comments
Sunday, August 19, 2007
kamu dan nuansa malam
tahukah kau bahwa nuansa malam kerap membawamu?
ya...
sejuta pendar cahaya (lampu, bintang, rembulan, dan matamu)
berbinar menyusup ke dalam hatiku
disana, di kedalaman yang sunyi itu, meretas seperti kembang api di malam musim panas

ah, haruskah kukatakan bahwa aku merindukanmu
kau dengan segala keangkuhanmu,
aku dengan segala kebodohanku,
dan dunia dengan segala kemustahilannya

detik-detik itu seolah terpaku dalam ingatanku
semua berputar kembali
sebelum aku menyadari bahwa cinta ada dalam setiap denyut kehidupanku
posted by laila @ 1:48 PM   2 comments
memaki
boleh saja kau ucap seribu sumpah serapah
terhadap si jalang dunia
boleh saja tertunduk wajahmu
merasa malu atas nilai-nilai mereka
boleh saja nadimu tinggal satu jengkal dari kematian

tapi jangan pernah menangisi dirimu
meskipun kosong rasanya
sebab seperti halnya aku,
tangis itu telah habis
habis
habis

dan katamu :
"KAMI AKAN TETAP MELACUR, BU
TETAPI DENGAN CARA KAMI SENDIRI"
posted by laila @ 1:17 PM   1 comments
Monday, January 15, 2007
separuh kematian
ada ruang di hatiku yang kubiarkan merongga :
untukmu
tidak pernah akan ada lagi
sebab telah cukup bagiku

aku tidak ingin membakarmu dalam api kemarahanku
aku hanya ingin menyimpanmu disana
kamu, dan berjuta kenangan manis lainnya
yang bahkan kata kata pun tidak dapat melukiskannya

aku hanya ingin terhenti sampai disini
memaknaimu seperti ini
meskipun terasa separuh kematian bagiku
posted by laila @ 8:55 AM   0 comments
Thursday, December 07, 2006
madu
bercak darah di atas seprai itu,
adalah tanda kematianku
tak ada lagi hingar bingar percintaan kita
semuanya telah kukubur dalam dalam
bersama dengan seribu malam bersamamu

tak sedikitpun jejakmu dihembus waktu
yang ada hanya detik detik mengumbar sembili
dibelakangmu rembulan rapuh menggugurkan serpihan cahaya
yang bertebaran manjadi abu

aku berbicara pada malam
(kenangan akanku hanya sebuah nostalgi yang usang kini)
posted by laila @ 9:00 PM   0 comments
Sunday, September 24, 2006
...
apa yang sedang mengkhianati dirinya sehingga ia merasa sama sekali tidak bersalah atas debaran di dadanya yang begitu memukau?
apa yang sedang memberi pengakuan sehingga ia merasa begitu lama membuang-buang waktu?
apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan selain berbuat baik?


(Waktu Nayla, Djenar Maesa Ayu)
posted by laila @ 6:07 AM   1 comments
 
About Me


Name: laila
Home: aksara, milik perempuan, Indonesia
About Me: perempuan biasa yang menyukai baju daster
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Bisik bisik disini
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Template by
Free Blogger Templates